topbella

Senin, 18 September 2017

Ketika Elang Malas Terbang

*Diceritakan ulang oleh Darmapoetra Maulana*


Suatu hari seorang Raja bijaksana yang tinggal di Negri gemah ripah mendapat hadiah dua ekor anak Elang perkasa.

Dalam benak beliau berpikir : bagus sekali jika Elang ini dilatih seksama agar kelak dapat bermanuver terbang mengangkasa.

Sejurus kemudian Raja memerintahkan hulubalang memanggil pelatih burung yang tersohor untuk melatih keduanya...

Setelah beberapa bulan, pelatih burung ini melaporkan perkembangan program bagi kedua Elang Raja.

Seekor Elang telah berhasil terbang tinggi dan melayang- layang di angkasa.

Namun sungguh aneh seekor Elang lagi tak beranjak dari dahan pohon yang berada di Tamansari.

Raja yang mendengar laporan itu segera memanggil semua ahli hewan terbaik yang ada di Kerajaan guna memeriksa kondisi Elang kesayangannya....

Meski semua ahli hewan telah mencurahkan segala kemampuannya, sungguh sayang... tak ada satupun yang mampu membuat Elang ini terbang.

Berbagai usaha telah dilakukan, tetapi Elang tak bergeming dari dahannya.

Sampai suatu hari Raja saat berjalan-jalan memeriksa keadaan negerinya.

Raja bertemu seorang petani yang dikenal piawai lmu perburungan....

Mendengar catatan keahliannya Raja segera meminta bantuan kepadanya.

Tak menunggu lama esoknya saat Raja menengok Elangnya.

Raja kaget luar biasa....sang Elang telah melanglang buana.... terbang menyusuri buana.

Dengan penuh penasaran Raja bertanya kepada petani, apa yang telah dilakukan.

Petani sederhana itu dengan takzim memberi penjelasan kepada Paduka Raja....

"Saya hanya memotong cabang pohon yang selama ini dihinggapinya".

Dahan itu yang membuatnya selama ini nyaman, membuatnya takut dan malas beranjak terbang.

Apakah hari ini teman2 bagai Elang yang tak berani terbang karena berada di dahan nyaman?

Padahal kita dilahirkan sebagai Pemenang, ditakdirkan mampu mengangkasa.

Tapi kita terlalu cemas mencengkeram rasa takut berlebih yang dibuat sendiri..

Tak berani membebaskan rasa takut sehingga tak beranjak dari posisi uenak..

Takut capek, Takut ditolak,Takut gagal, Takut mencoba, Takut rugi, Takut kendala, Takut repot, Takut follow up, Takut salah dan ketakutan lainnya...

Mari memahami diri sendiri dan mulai menumbuhkan kekuatan dan percaya diri...

Yuk Terbang tinggi menggapai semua mimpi

Karena Takdir kita adalah seorang Pemenang

Berani bermimpi
Berani melangkah
Berani berjuang, ngototlah
Sampai akhirnya kita mampu membumbung tinggi ke seantero dunia.

Impikan - Doakan - Lakukan!
Read More..

Jumat, 15 September 2017

Ketika Jomblo Keluar Seorang Diri Part 2

Ingat kemarin pas aku keluar sendiri ke rumah teman?
Oke, yang belum baca bisa baca dimari.

Karena pergi seorang diri, pulangnya fix aku diomelin karena berani bawa motor sendiri padahal belum mahir?!. Siapa yang marahin? Yang jelas bukan mamah, kakak, maupun saudara sedarah malainkan seorang teman rasa saudara. Teman yang super duper protektif. Sebenarnya bukan cuman dia doang, karena hampir semua orang yang dekat denganku akan berubah menjadi protektif dan akibat keprotektifan merekalah alhasil hingga mau wisudapun aku belum mahir bawa motor dan baru belajar sekarang. Entah mengapa mereka bersikap seperti itu. Apakah diri ini terlihat begitu lemah hingga harus selalu dilindungi?? Hehehe. Oke, ini lebay. Tapi gapapa. Setidaknya bisa nyetir mobil. He

Inilah mereka yang sukses mengurungkan niatku untuk kembali mencoba mengendarai motor sejak tiga tahun lalu.
Susi : "gak usah bawa motor mba. Gak usah belajar. Mba gak cocok bawa motor".
Me : heh? "Gapapa sus. Ajarin ana ya, gak enakan ana repotin kalian mulu".
Susi : " gapapa mba, selama ana free ana bakalan ngantarin mb 'Aisy terus, gak repot kok mba"

Rani : "Kakak gak usah bawa motor aja. Ana gak mau ngajarin. Mending ana panas panasan daripada kakak bawa motor keluar sendiri". Dan dia sukses melarang siapapun yang mau ngajarin aku bawa motor.

Kak Eka : "Mumpung kakak masih di jogja, kakak bakalan antar adek kemanapun. Biar kakak jadi tukang ojeknya adek".

Fix, gak ada yang mau ngajarin ana dikota perantauan ini. Dan akhirnya dengan berbagai paksaan dan wajah memelas dan rayuan teman ana Rani akhirnya terketuk juga pintu hatinya ^_^. "Kalau ana gak diizinin dan diajarin gimana nanti kalau ana lanjut study lagi? Siapa yang ngantarin ana kesana kemari sementara kita sudah pisah?" *emot melas dan puppy eyes andalan. Emang rencana setelah ini pengen lanjut kuliah lagi insya Allah karena hijab dan status "akhowat" bagi ana bukanlah halangan untuk menggapai pendidikan setinggi mungkin selagi bukan maksiat dan mendatangkan manfa'at yang lebih banyak. Terutama buat keluarga kelak dan ummat.

Pernah dengar kata-kata ini:
Salah satu bentuk rizki dari Allah ialah Allah memberikan kita sahabat-sahabat yang baik

Yup. Sahabat yang baik itu bukan hanya membantumu saat kesusahan, tapi sahabat yang baik ialah sahabat yang selalu menguatkan dalam kebaikan dan marah saat engkau berbuat maksiat. Dan aku begitu bersyukur mendapatkannya.

Bukan hanya perhatian, tenaga bahkan materipun rela diberikan secara cuma-cuma. Dan yang lebih menyentuh hati ini adalah mereka yang tak suka melihatku "sedikit" melenceng. Misalnya saat mereka nonton dan aku tak sengaja melintas atau menengok ke arah layar maka salah seorang dari mereka akan berkata, "Mb 'Aisy gak boleh lihat! Nanti hafalannya hilang!!" *sambil nutup layar laptop.
Atau saat akan pergi ke alun-alun kidul sekedar melepas penat di malam hari yang ketika itu juga sedang ada festival musik. Apa yang dikatakan temanku kepada teman yang lainnya saat tau aku juga ingin ikut? Marah, tentu. Dengan nada kesal ia berkata, "Kenapa bilang Aisyah? Jangan ajak-ajak dia ih! Udah tau disana banyak maksiat!".

Sekalipun mereka bukan orang pondokan dan sering lalai, tak sekalipun mereka mengizinkanku untuk melakukan sesuatu diluar kebiasaanku. Dan itu sukses membuatku menangis parah. Ya, Allah lagi-lagi menjagaku melalui mereka. As u know iman itu naik turun apalagi untuk anak kuliahan seperti diriku yang lama tak ikut kajian karena sibuk kuliah dari pagi sampai menjelang maghrib dan malamnya harus menyimak setoran hafalan anak-anak, mengerjakan tugas kuliah dan sebagian waktu untuk kepentingan organisasi. Aku pernah berada dipuncak kefuturan dan ingin menyerah dalam hijrah. Membayangkan kehidupan dan diriku sebelum hijrah sepertinya begitu menyenangkan, kau tak perlu berjuang dengan begitu banyak linangan air mata saat menahan untuk tidak bermaksiat ataupun untuk tidak melakukan sesuatu yang tidak Allah cintai.

Kesal dengan sikap keprotektifan mereka?
Ya Allah... Mana mungkin aku kesal. Justru saat itu malah pengen nangis. "Disaat lalai dan letihku diatas al haq, Allah justru selalu melindukngiku untuk tetap berada dijalanNya".

Allah menghadirkan untukku saudari-saudari dengan segudang perhatin. Saat sakit, maka saudariku akan menyuapiku tanpa aku minta, membuatkan teh hangat dan merawatku dengan tulus. Saat aku begitu disibukan dengan tugas-tugasku hingga tak lagi memiliki waktu untuk diri sendiri, maka saudariku akan mencuci pakaian kotorku dan merapikan barang barangku tanpa aku minta. Saat aku dalam suatu tugas, maka saudariku akan menyiapkan segalanya untukku. Terkadang kaget saat melihat barang-barang yang aku butuhkan telah lengkap tersedia. Saat aku qaddarullah kehilangan hp, maka saudariku jauh-jauh dari Solo hari itu juga membelikan hp baru dan diantarkan ke jogja tanpa aku minta. Padahal cuman ngasih kabar doang kalau hubungin via facebook aja karena hp qaddarullah hilang dan belum sempat beli. Sering bertanya kenapa mereka mau melakukan semua untukku secara cuma-cuma padahal aku merasa tidak memperlakukan mereka sebaik itu.

Yaa aku BAPER. Bagaimana mungkin aku tidak BAPER saat mereka begitu sering memberikan hal-hal manis untukku. Sangat banyak hal-hal manis dan perhatian yang apabila aku sebutkan maka akan sangat panjang. Itulah salah satu sebab mengapa diriku masih betah dengan status single dan tak berhubungan dengan lawan jenis manapun walau hanya say hello hingga saat ini. Alhamdulillah. Selain karena tau hukumnya juga alhamdulillah karena perhatian dari orang-orang sekitar sudah terasa sangat berlimpah. Mereka dengan segudang perhatian dan selalu siap berkelana kemanapun saat jenuh melanda. Kurang apa lagi? Yah, mereka sudah cukup bagiku. Setidaknya hingga detik ini.

"Ya Rabbi... Sejauh apapun aku bermain dan selalai apapun aku hari ini, aku mohon... Jangan pernah putuskan penjagaanMu untukku dan jangan pernah Engakau mengambilku kecuali dalam keadaan aku ridho dan Engkau meridhoiku"
Read More..

Selasa, 29 Agustus 2017

Ketika Jomblo Keluar Seorang Diri

Assalaamu'alaykum...

Wah, udah lama gak ngeblog. Semenjak kenal facebook jadi malas ngeblog. Teman pada nanya, "ngapain aja gak pernah ngepost di blog lagi?". Jawabannya gak kemana-mana cuman sibuk sama urusan kampus sama organisasi doang plus udah gak punya inspirasi lagi buat nulis ^_^.
Hm, sebenarnya gak butuh inspirasi sih karna blog ini isinya curhatan hati yang minta dikeluarin doang ^_^.


Any way, tadi habis main ke kosan teman plus reunian sama teman yang sudah lama gak ketemu. Dan masya Allahnya semua sudah pada sold out. Singkat cerita si B ditelfon zauj kalau sudah dijemput dan suami si empuhnya rumah juga udah di depan pintu mau masuk. Karena tempatnya kosan dan cuman ada kamar, otomatis ana juga harus ikut pulang dengan berat hati. Yah gak mungkin juga kan ana ikut nimbrung bareng pasutri dalam kamar... ^_^. Padahal niatnya pengen main lama ^_^

Eh pas mau pulang depan pintu ada suami si B dan dia nutupin jalan. Karena malu ana memutuskan buat masuk lagi. Eh, pas mau balik ternyata suami si empuhnya rumah udah megang handle pintu buat masuk. Huft, Jadi lah ana gak punya pilihan lain selain ikut pulang. Nasib... nasib

Pas nyampe di parkiran ternyata banyak ikhwan-ikhwan pondok lagi ngobrol dan nutupin jalan. Oke fix, ana gak berani keluar karena sisi pemalu ana lagi kambuh. Selain malu karena fitroh wanita,
sebenarnya karena ini first time Ana joki seorang diri dan baru bisa kemarin sore. Hihihihi. Iya kali kalau Ana gak bisa belok dan jatuh depan ikhwan-ikhwan itu. *tutup muka pake daun kelor
Jujur, dulu sempat bisa tapi karena trauma jatuh akhirnya ogah bawa motor lagi dan malah belajar ngendarai mobil, walaupun pas dulu belajar juga sempat nabrak dan rusakin pintu mobil orang *parah


Dan akhirnyaaaa...
Jadilah ana melas depan tangga nungguin mereka selesai ngobrol seorang diri .

Yaa Allah, nasib.. nasib...Gini banget ya nasib single kalau lagi jalan sendiri apalagi didaerah pondok. Kalau itu orang awwam mungkin ana akan biasa aja dan gak pake acara malu-malu meong.

Huaaaaa... rasanya pengen bilang "bang, jemput dede bang" eoh?? ^_^
Read More..

Sabtu, 07 Januari 2017

Inikah Rasanya?

Tak mengapa perhatian itu pergi... Tak mengapa...
Tak mengapa juga rasa itu pergi... Tak mengapa...
Mungkin sudah telat untuk memperbaiki...

Kini hanya bisa sekedar merindukan...
Saat engkau selalu menyiapkan makanan dan menyuapiku saat aku sakit...
Saat aku menangis dan engkau turut menitikan air mata, mengusap lembut pundakku...
Saat aku selalu malas belajar tatkala ujian dan engkau selalu mengingatkanku,membangunkanku hingga aku benar2 bangkit...
Saat aku bangun dan handout materi ujian sdh ada disamping bantalku...
Saat engkau rela menyobek buku materimu untuk berbagi denganku...
Saat aku sibuk, lalu pakaian kotor telah tertata bersih rapi di dalam lemariku...
Saat engkau selalu membagi apa yang engkau punya kepadaku...
Saat kita berjama'ah berdua, terisak lalu bercerita mengenai akhirat berdua...
Saat engkau dengan sabar selalu menyimak hafalanku...
Saat aku marah dan engkau membalasku dengan senyum...
Saat aku selalu engkau sertakan dlm do'amu...
Saat engkau rela melakukan apapun untukku...
Saat engkau berkata aku adalah org yg paling engkau sayangi...

Ah, itu dulu...

Saudariku, Taukah... saat engkau membangunkanku untuk belajar dan aku tidak segera bangkit. Saat itu bukannya aku tak ingin bangun atau tidur kembali, bahkan rasa kantukku hilang seketika. Engkau tau apa yg aku lakukan saat it? Menangis. Ya, menangis hingga mata ini sembab. Bagaimana mungkin engkau selalu jauh lbh perduli terhadapku dibanding diriku sendiri? Bagaimana mungkin engkau seolah menjadikan dirimu sebagai pelayan untukku? Ah, dirimu... Kasih sayng Allah begitu terasa melalui dirimu...

Maafkan aku yang seringkali terkesan mengabaikan... Kini ku tau rasanya...

Satu pintaku...
Jgn lupakan aku... Saat kelak engkau di surga dan tak melihatku, tanyakan aku pd Robbmu... Tarik tanganku, dan ajak aku kesurga bersamamu...

Uhibbuki fillah yaa ukhty ashashogiiroh...
Read More..

About Me

Foto Saya
Akhwat's Note
Just an ordinary girl...
Lihat profil lengkapku