topbella

Jumat, 19 Januari 2018

Cara Agar Tak Terkesan Jutek

Anda dibilang jutek? Padahal menurut anda biasa aja? Yah, terkadang memang begitu. Dunia ini lumayan kejam waaat....! Akupun pernah merasakannya. Dulu. Sering malah. Waktu masih jamannya suka ngoleksi boneka mulai dari yang kecil unyu-unyu sampai yang segede gambreng dan pada akhirnya boneka-boneka itu berakhir bersama kobaran api dan minyak tanah.

Trus sekarang? Kata oraaang... Yah, kalau kata orang sih lumayanlah. Lumayan ngademin dikit. Hehehe. Kata Orang! 

Caranya?

Caranya sebenarnya susah-susah gampang. Cukup banyakin senyum saat ngomong dan hindari kata-kata yang akan menyinggung hati orang. Senyumnya bukan senyum kyak orang lagi kesem sem ya. Ntar malah dikira gila! Jangan juga senyum saat lagi ngomong serius, ya intinya sesuai sikonlah. Kamudian pandai-pandai milih kata, berusaha agar tidak ada hati yang tersakiti. ^_^

Jadi dulu itu subhanallah paling gak bisa kalau disuruh ngomong lembut, suka dibilang judes padahal menurutku itu biasa aja.

Terus mulailah ikut kajian. Ta'jub sama orang-orangnya yang super ramah. Belum kenal tapi kita disamperin, diajak kenalan, diajak salaman, disenyumin. Huaaaah.... itu jujur buat diri ini ta'jub, karena lingkungan pertemananku sebelumnya gak ada yang seperti itu. Gak ada yang ramah.  Eh, ada juga deng. Cuman cara nyapanya aja yang beda, nama kita diteriakin dari jauh. Hihihi... 
Yah, begitulah...

Jadi dulu pas awal masuk SMA, di tempat ta'lim ada satu akhowat (cwek) yang bagi ana paling nyenengin dan adem kalau dipandang. Ngomongnya gak lembut-lembut amat, biasa aja. Tapi ternyata yang buat dia enak dipandang dan nyenengin itu karena senyumnya. Suka menebar senyum dan ramah. Nah, itu sebenarnya yang lebih penting dari sekedar lembut. Apalah arti kata lembut kalau ucapan bagai belati, tajam dan menohok???

Beberapa kali pas lihat beliau ngomong sempat kagum " Masya Allah, bisa gak ya ana kayak gitu?" Batinku saat itu. Yah secara, itu adalah awal-awal diriku hijrah dan itu berat. And than I tried it. Awalnya rada kaku, lama-lama alhamdulillah mulai terbiasa dan akhirnya menjadi kebiasaan.

Nah, belajar dari pengalaman... Karakter dan kebiasaan itu sebenarnya bisa dirubah. Jangan pernah mengatakan, "aku tidak ingin munafik, yah inilah aku!" Oke. Fine. Tapi kalau ternyata kebiasaan itu kurang baik mengapa tidak untuk dirubah? Apalagi kalau terkadang buat orang yang berinteraksi dengan kita menjadi kurang nyaman??? Masih ingin mengatakan inilah aku???

Kalau ingin merubah kebiasaan menjadi lebih baik Insya Allah bisa. Rasulullah bersabda yang artinya, "Barangsiapa yang berusaha menjadi penyabar, maka Allah akan menjadikannya penyabar"

Ya demikian juga, barang siapa yang ingin menjadi dan "berusaha" menjadi ramah maka Allah akan menjadikannya sosok sebagaimana yang ia usahakan. Tentunya dengan ujian diawalnya. Untuk apa? Untuk membuktikan apakah si hamba sungguh-sungguh ingin berubah ataukah tidak. Jika tidak, maka si hamba akan mudah untuk menyerah saat diuji, demikian pula sebaliknya. 

Allah berfirman yang artinya : " Apakah manusia mengira mereka dibiarkan mengatakan : aku telah  beriman sedang mereka belum diuji?" (QS. Al ankabut: 2-3)

Maka saat Anda mulai akan berubah kearah yang lebih baik, maka pasti akan banyak ujian yang datang. Dan jika saat itu tiba, jangan menyerah! Jangan berbalik arah! Dan keluarlah sebagai pemenang!

~Semoga Allah senantiasa memudahkan kita dalam kebaikan~
Read More..

Jumat, 24 November 2017

Surat Untuk Ayah (2)

Ayah...

Tanggal 28 Oktober kemarin aku wisuda...
Hal yang tak pernah terbayangkan setelah hijrahku ialah bisa menyelesaikan studyku hingga ke jenjang perguruan tinggi...
Entah mengapa, setelah hijrah ambisi duniaku seketika sirna entah kemana...
Yang terpikirkan saat itu hanyalah bagaimana hidup dalam naungan cintaNya, bagaimana agar aku bisa terus dekat denganNya, hingga keluar dari pendidikan formal dan menghabiskan waktu di pesantren adalah pilihan yang ku anggap terbaik saat itu...

Ayah...
Saat Ayah "pergi" dulu, saat itulah aku memutuskan untuk benar-benar bercerai dari dunia
Jika engkau masih ada, mungkin engkau akan kecewa dengan keputusanku saat itu...

Aku ingat, dulu proses hijrahku dimulai saat prestasi akademikku sedang naik, saat engkau selalu membanggakan prestasiku dihadapan banyak orang...
Disaat para orang tua membanggakan prestasi anak-anaknya, tak ada lagi yang bisa dibanggakan dariku sepeninggalmu...


Ayah...
28 Oktober kemarin namamu disebutkan...
I got this...






Aku kuliah jurusan kesehatan sebagaimana yang engkau inginkan. Dan aku menyelesaikannya dengan baik. Alhamdulillah...
Aku pikir, aku tak akan lagi mengecap pendidikan formal apalagi mengambil jurusan selain diniyah

Saat di pesantren dulu...
Aku diam-diam berjuang menghafalkan Kalamullah. Selain karena Allah, aku melakukannya untuk kalian orang tuaku. Tak ada lagi yang bisa aku lakukan untuk membalas jasa kalian selain menjadi anak sholehah dan memberikan kado istimewa berupa pakaian terbaik yang akan kalian pakai di hadapan seluruh penduduk bumi kelak...

Banyak orang bertanya apa motivasiku mengkafalkannya???
Aku tidaklah dikaruniai otak yang cerdas sebagaimana kakak dan adik, bahkan kelas 10 aku belum bisa membaca Al Qur'an dengan baik. Aku cuman punya semangat. Semangat yang besar untuk membuatmu bangga. Semangat yang membuatku selama 3 tahun lupa bagaimana rasanya tidur siang, bagaimana sangat menyesalnya tatkala terbangun setelah jam 3 subuh, bagaimana rasanya tertawa lepas, bagaimana rasanya bercengkrama ria bersama gadis-gadis seumuranku...

Disaat para orang tua membanggakan anaknya dengan prestasi di dunia yang hanya sementara, aku ingin memberikan kalian kado istimewa yang kekal abadi...  
Disaat para orang tua membanggakan anaknya kepada segelintir penduduk bumi, aku ingin nama kalian di panggil di atas podium termegah, naik dengan haru dihadapan seluruh penduduk bumi tanpa terkecuali... 
Kado itu... semoga bisa membuat kalian tersenyum bahagia disaat para penduduk bumi tertunduk kaku...
Inilah salah satu perjuanganku  untuk membahagiakan kalian di akhirat. Aku berharap kalian tak bersedih tatkala aku tak mendapatkan secuil dari dunia...
Dan gelar duniaku saat ini, semoga makin mendekatkanku denganNya...


Ayah...
Aku merindukanmu lagi...
Tak pernah berhenti aku mendoakanmu, selalu berusaha untuk terus berada di koridorNya agar do'aku untukmu dikabulkan olehNya
Semoga Allah melapangkan kuburanmu sejauh mata memandang, dan semoga engkau dijauhkan dari siksa kubur hingga hari kebangkitan kelak. Aamiin


*Your little girl*


I love you...




Baca Juga :
Surat Untuk Ayah (1)


Read More..

Senin, 09 Oktober 2017

Calon Pasangan Halalku



Hai...
Kamu apa kabar?
Semoga sehat selalu dan dalam naungan cintaNya. ^_^

Tiba-tiba kepikiran kamu. Iya, kamu. ^_^
Orang yang sama sekali tak kuketahui dan masih menjadi misteri.

Hmm... Kau tau, tidak gampang tertarik dan mengagumi seseorang itu asyik tapi juga kadang bikin greget.

Enaknya hati lebih terjaga dan tak mudah diisi oleh orang lain, jauh dari kata galau ^_^
Tapi gregetnya juga kadang mikir "terus ikhwan kayak mana yang bisa buat Ana tertarik??" ^_^

Menolak beberapa ikhwan yang ingin serius kadang membuatku bertanya dalam hati "Siapakah kamu? Bagaimana rupa dan kepribadianmu? Apakah lebih baik dari mereka ataukah malah sebaliknya?"

Orang-orang sekitarku sering bertanya kriteria seperti apa yang aku inginkan dan akupun bingung harus menjawab seperti apa. Kau tahu kenapa? Karena aku memang tak memiliki kriteria khusus. Bagiku Allahlah Pengatur Kehidupan Terbaik. Ya, aku menyerahkan seluruh hidupku kepadaNya dan biar Allah yang mengatur. Bukankah Allah mengetahui apa yang aku inginkan dan aku butuhkan? Dan aku sangat yakin Allah tidak akan mengecewakanku.

Kalau tidak memiliki kriteria khusus, lalu mengapa suka menolak???

Hati. Bukankah jawaban dariNya adalah ketertarikan dan kemantapan hati? Dan aku belum pernah merasakan keduanya. Entah kenapa. Simpel, berarti bukan jodoh. Gak pernah minta yang muluk-muluk. Siapapun kamu, sekalipun jauh dari apa yang aku inginkan tapi jika baik untuk akhiratku, aku selalu memohon agar Allah melembutkan hatiku dan keluargaku untuk menerimamu. Memberiku keikhlasan dan kesabaran untuk berjalan bersamamu menuju kampung halaman Abadi.

Ahhhhh.. Jodoh. Sekeras apapun engkau menolaknya, jika jodoh maka suatu saat ia akan tetap memilikimu. Dan sekeras apapun engkau berusaha meraihnya jika bukan jodoh maka ia tidak akan pernah tergapai.
                                                                                   ***




"Ya Rabb, titipkan aku kepada pria yang Engkau cintai dan dia mencintaiMu lebih dari apapun. Dia yang engkau ridhoi dan dapat membimbingku berjalan bersamanya menuju surgaMu. Dan apabila yang Engkau pilihkan tidak sesuai dengan apa yang aku inginkan, ku mohon berikan aku keikhlasan dan kesabaran menerima ketetapanMu. Dan jangan pernah berhenti mencintaiku.''


Whoever you are...
I'm waiting for you to hold my hand
Together to Jannah...
Read More..

Kamis, 21 September 2017

Istidraj

"Aku sering maksiat, tapi kok aman-aman aja ya? Prestasiku semakin meningkat, keunganku justru semakin bertambah, dan hidupku lancar saja?"

Tak sadar, azab Allah tak selalu berbentuk musibah. Hukuman terberat bagi pelaku maksiat adalah saat kenikmatan dalam beribadah sudah dicabut oleh-Nya

Saat sholat tak lagi dinikmati, saat bacaan Al qur'an tak lagi menggetarkan hati, bahkan sering kali terlupakan.
Saat ibadah hanya jadi ritual penggugur kewajiban, terasa jadi beban, minim hikmah, hilang khusyu', dan tak punya dampak pada perbaikan akhlak.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman yang artinya:

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’am: 44)

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ

“Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad).

Maka adakah pemberian yang lebih nikmat dibanding hidayah dan kekhusyuan dalam beribadah?
Read More..

Senin, 18 September 2017

Ketika Elang Malas Terbang

*Diceritakan ulang oleh Darmapoetra Maulana*


Suatu hari seorang Raja bijaksana yang tinggal di Negri gemah ripah mendapat hadiah dua ekor anak Elang perkasa.

Dalam benak beliau berpikir : bagus sekali jika Elang ini dilatih seksama agar kelak dapat bermanuver terbang mengangkasa.

Sejurus kemudian Raja memerintahkan hulubalang memanggil pelatih burung yang tersohor untuk melatih keduanya...

Setelah beberapa bulan, pelatih burung ini melaporkan perkembangan program bagi kedua Elang Raja.

Seekor Elang telah berhasil terbang tinggi dan melayang- layang di angkasa.

Namun sungguh aneh seekor Elang lagi tak beranjak dari dahan pohon yang berada di Tamansari.

Raja yang mendengar laporan itu segera memanggil semua ahli hewan terbaik yang ada di Kerajaan guna memeriksa kondisi Elang kesayangannya....

Meski semua ahli hewan telah mencurahkan segala kemampuannya, sungguh sayang... tak ada satupun yang mampu membuat Elang ini terbang.

Berbagai usaha telah dilakukan, tetapi Elang tak bergeming dari dahannya.

Sampai suatu hari Raja saat berjalan-jalan memeriksa keadaan negerinya.

Raja bertemu seorang petani yang dikenal piawai lmu perburungan....

Mendengar catatan keahliannya Raja segera meminta bantuan kepadanya.

Tak menunggu lama esoknya saat Raja menengok Elangnya.

Raja kaget luar biasa....sang Elang telah melanglang buana.... terbang menyusuri buana.

Dengan penuh penasaran Raja bertanya kepada petani, apa yang telah dilakukan.

Petani sederhana itu dengan takzim memberi penjelasan kepada Paduka Raja....

"Saya hanya memotong cabang pohon yang selama ini dihinggapinya".

Dahan itu yang membuatnya selama ini nyaman, membuatnya takut dan malas beranjak terbang.

Apakah hari ini teman2 bagai Elang yang tak berani terbang karena berada di dahan nyaman?

Padahal kita dilahirkan sebagai Pemenang, ditakdirkan mampu mengangkasa.

Tapi kita terlalu cemas mencengkeram rasa takut berlebih yang dibuat sendiri..

Tak berani membebaskan rasa takut sehingga tak beranjak dari posisi uenak..

Takut capek, Takut ditolak,Takut gagal, Takut mencoba, Takut rugi, Takut kendala, Takut repot, Takut follow up, Takut salah dan ketakutan lainnya...

Mari memahami diri sendiri dan mulai menumbuhkan kekuatan dan percaya diri...

Yuk Terbang tinggi menggapai semua mimpi

Karena Takdir kita adalah seorang Pemenang

Berani bermimpi
Berani melangkah
Berani berjuang, ngototlah
Sampai akhirnya kita mampu membumbung tinggi ke seantero dunia.

Impikan - Doakan - Lakukan!
Read More..

Jumat, 15 September 2017

Teman Rasa Saudara

Ceritanya kemarin keluar seorang diri ketemu kerabat yang lama gak ketemu dan pulangnya fix aku diomelin karena berani bawa motor sendiri padahal belum mahir?!.
Siapa yang marahin? Mamah? kakak? Bukan. Malainkan teman yang super duper protektif. Sebenarnya bukan cuman dia doang, karena hampir semua orang yang dekat denganku akan berubah menjadi protektif dan akibat keprotektifan merekalah alhasil hingga mau wisudapun aku belum mahir bawa motor dan baru belajar sekarang. Entah mengapa mereka bersikap seperti itu. Tapi gapapa. Setidaknya bisa nyetir mobil. Hhee

Dengan berbagai alasan mereka sukses membuatku selalu bergantung kepada mereka untuk urusan keluar kesana -kemari.
Susi : "gak usah bawa motor mba. Gak usah belajar. Mba gak cocok bawa motor".
Me : heh? "Gapapa sus. Ajarin ana ya, gak enakan ana repotin kalian mulu".
Susi : " gapapa mba, selama ana free ana bakalan ngantarin mb 'Aisy terus, gak repot kok mba"

Rani : "Kakak gak usah bawa motor aja. Ana gak mau ngajarin. Mending ana panas panasan daripada kakak bawa motor keluar sendiri". Dan dia sukses melarang siapapun yang mau ngajarin aku bawa motor.

Kak Eka : "Mumpung kakak masih di jogja, kakak bakalan antar adek kemanapun. Biar kakak jadi tukang ojeknya adek".

Fix, gak ada yang mau ngajarin ana dikota perantauan ini. Dan akhirnya dengan berbagai paksaan dan wajah memelas dan rayuan teman ana akhirnya terketuk juga pintu hatinya ^_^. "Kalau ana gak diizinin dan diajarin gimana nanti kalau ana lanjut study lagi? Siapa yang ngantarin ana kesana kemari sementara kita sudah pisah?" *emot melas dan puppy eyes andalan emang selalu ampuh. hehehe

Memang rencana setelah ini pengen lanjut kuliah lagi insya Allah karena hijab dan status "akhowat" bagi ana bukanlah halangan untuk menggapai pendidikan setinggi mungkin selagi bukan maksiat dan mendatangkan manfa'at yang lebih banyak why not? Iya gak sih? (Tolong dibenarkan kalau ana keliru tentang ini)

Pernah dengar kata-kata ini:
Salah satu bentuk rizki dari Allah ialah Allah memberikan kita sahabat-sahabat yang baik

Yup. Sahabat yang baik itu bukan hanya membantumu saat kesusahan, tapi sahabat yang baik ialah sahabat yang selalu menguatkan dalam kebaikan dan marah saat engkau berbuat maksiat. Dan aku begitu bersyukur mendapatkannya.

Bukan hanya perhatian, tenaga bahkan materipun rela diberikan secara cuma-cuma. Dan yang lebih menyentuh hati ini adalah mereka yang tak suka melihatku "sedikit" melenceng. Misalnya saat mereka nonton dan aku tak sengaja melintas atau menengok ke arah layar maka salah seorang dari mereka akan berkata, "Mb 'Aisy gak boleh lihat! Nanti hafalannya hilang!!" *sambil nutup layar laptop.
Atau saat akan pergi ke alun-alun kidul sekedar melepas penat di malam hari yang ketika itu juga sedang ada festival musik. Apa yang dikatakan temanku kepada teman yang lainnya saat tau aku juga ingin ikut? Marah, tentu. Dengan nada kesal ia berkata, "Kenapa bilang Aisyah? Jangan ajak-ajak dia ih! Udah tau disana banyak maksiat!".

Sekalipun mereka bukan alumi ma'had, tak sekalipun mereka mengizinkanku untuk melakukan sesuatu diluar kebiasaanku. Dan itu sukses membuatku menangis parah. Ya, Allah lagi-lagi menjagaku melalui mereka. As u know iman itu naik turun apalagi untuk anak kuliahan seperti diriku yang lama tak ikut kajian karena sibuk kuliah dari pagi sampai menjelang maghrib dan malamnya harus menyimak setoran hafalan anak-anak, mengerjakan tugas kuliah dan sebagian waktu untuk kepentingan organisasi. Aku pernah berada dipuncak kefuturan dan ingin menyerah dalam hijrah. Membayangkan kehidupan dan diriku sebelum hijrah sepertinya begitu menyenangkan, kau tak perlu berjuang dengan begitu banyak linangan air mata saat menahan untuk tidak bermaksiat ataupun untuk tidak melakukan sesuatu yang tidak Allah cintai.

Kesal dengan sikap keprotektifan mereka?
Ya Allah... Mana mungkin aku kesal. Justru saat itu malah pengen nangis. "Disaat lalai dan letihku diatas al haq, Allah justru selalu melindukngiku untuk tetap berada dijalanNya".

Allah menghadirkan untukku saudari-saudari dengan segudang perhatin.
Saat sakit, maka saudariku akan menyuapiku tanpa aku minta, membuatkan teh hangat dan merawatku dengan tulus. Saat aku begitu disibukan dengan tugas-tugasku hingga tak lagi memiliki waktu untuk diri sendiri, maka saudariku akan mencuci pakaian kotorku dan merapikan barang barangku tanpa aku minta. Saat aku dalam suatu tugas, maka saudariku akan menyiapkan segalanya untukku. Terkadang kaget saat melihat barang-barang yang aku butuhkan telah lengkap tersedia.

Suatu ketika aku qaddarullah kehilangan hp, kemudian salah seorang kakak jauh-jauh dari Solo hari itu juga membelikan hp baru dan diantarkan ke jogja tanpa aku minta. Diberikan secara cuma-cuma. Kalau perlakuan cowok ke cewek mungkin wajar, tak ada yang spesial. Tapi seorang teman wanita yang baru dikenal beberapa bulan dan begitu baik serta loyal padamu, bagiku itu sedikit luar biasa. Padahal cuman ngasih kabar doang kalau hubungin via facebook aja karena hp qaddarullah hilang dan belum sempat beli. Gak nyangkanya lagi jauh-jauh dari solo cuman buat ngasih hp baru, ngurusin kartu ke grapari, nyuciin baju dinas terus besoknya pulang. Entah, tapi hampir semua yang dekat denganku bersikap seperti itu. Apa yang spesial dariku yaa Allah????

Sering bertanya kenapa mereka mau melakukan semua itu untukku secara cuma-cuma padahal aku merasa tidak memperlakukan mereka sebaik itu.

Yaa aku BAPER. Bagaimana mungkin aku tidak BAPER saat mereka begitu sering memberikan hal-hal manis untukku. Saat mereka rela mengorbankan apa yang mereka miliki untukku?
Mungkin itulah salah satu sebab mengapa aku masih betah dengan status single dan tak berhubungan dengan lawan jenis manapun hingga saat ini. Alhamdulillah.
Selain karena tau hukumnya, juga alhamdulillah karena perhatian dari orang-orang sekitar sudah terasa sangat berlimpah. Mereka dengan segudang perhatian dan selalu siap berkelana kemanapun saat jenuh melanda. Kurang apa lagi?

Yah, mereka sudah cukup bagiku. Setidaknya hingga detik ini.


"Ya Rabbi... 
Sejauh apapun aku bermain dan selalai apapun aku hari ini...
Aku mohon,
Jangan pernah putuskan penjagaanMu terhadapku...
Jangan pernah berhenti mencintaiku... 
Dan Jangan pulangkan aku kecuali dalam keadaan aku ridho dan Engkau meridhoiku"
Read More..

Sabtu, 07 Januari 2017

Inikah Rasanya?

Tak mengapa perhatian itu pergi... Tak mengapa...
Tak mengapa juga rasa itu pergi... Tak mengapa...
Mungkin sudah telat untuk memperbaiki...

Kini hanya bisa sekedar merindukan...
Saat engkau selalu menyiapkan makanan dan menyuapiku saat aku sakit...
Saat aku menangis dan engkau turut menitikan air mata, mengusap lembut pundakku...
Saat aku selalu malas belajar tatkala ujian dan engkau selalu mengingatkanku,membangunkanku hingga aku benar2 bangkit...
Saat aku bangun dan handout materi ujian sdh ada disamping bantalku...
Saat engkau rela menyobek buku materimu untuk berbagi denganku...
Saat aku sibuk, lalu pakaian kotor telah tertata bersih rapi di dalam lemariku...
Saat engkau selalu membagi apa yang engkau punya kepadaku...
Saat kita berjama'ah berdua, terisak lalu bercerita mengenai akhirat berdua...
Saat engkau dengan sabar selalu menyimak hafalanku...
Saat aku marah dan engkau membalasku dengan senyum...
Saat aku selalu engkau sertakan dlm do'amu...
Saat engkau rela melakukan apapun untukku...
Saat engkau berkata aku adalah org yg paling engkau sayangi...

Ah, itu dulu...

Saudariku, Taukah... saat engkau membangunkanku untuk belajar dan aku tidak segera bangkit. Saat itu bukannya aku tak ingin bangun atau tidur kembali, bahkan rasa kantukku hilang seketika. Engkau tau apa yg aku lakukan saat it? Menangis. Ya, menangis hingga mata ini sembab. Bagaimana mungkin engkau selalu jauh lbh perduli terhadapku dibanding diriku sendiri? Bagaimana mungkin engkau seolah menjadikan dirimu sebagai pelayan untukku? Ah, dirimu... Kasih sayng Allah begitu terasa melalui dirimu...

Maafkan aku yang seringkali terkesan mengabaikan... Kini ku tau rasanya...

Satu pintaku...
Jgn lupakan aku... Saat kelak engkau di surga dan tak melihatku, tanyakan aku pd Robbmu... Tarik tanganku, dan ajak aku kesurga bersamamu...

Uhibbuki fillah yaa ukhty ashashogiiroh...
Read More..

Kamis, 01 Desember 2016

Jika Yakin Allah Segalanya, Mengapa Mengharapkan yang Lain?

Rasanya ingin memulai dari awal lagi... Kembali belajar bersabar, menumbuhkan kecintaan dan kerinduan yang besar kepadaNya...

Rasanya ingin memulai dari awal lagi... Kembali menahan, tak takut merasakan sakit dan menjadikan akhirat benar-benar sebagai tujuan...

Rasanya lelah berjuang sendiri, seolah engkau terjatuh di dasar lubang dan membutuhkan seseorang untuk membantumu berdiri, kembali barjalan...

Ah... itulah dunia...
Harus terus bersabar bukan?
Harus terus mencoba walau berkali-kali gagal...

Jika engkau yakin Allah segalanya, mengapa harus menunggu seseorang untuk kembali memulai segalanya dari awal, berharap ia akan menjadi sandaran dan tempatmu berbagi rasa?Jika cukup engkau dan Allah, mengapa mengaharapan yang lain?
Read More..

Sabtu, 15 Oktober 2016

Love Because Allah

Jika Allah mencintai seorang hamba maka Allah akan menjaganya dari maksiat bukan? Dan tidakkah engkau sadar betapa Allah mencintaimu? Betapa Allah begitu menjagamu?
Engkau yang Ia titipkan kepada pasangan yang mengerti nilai-nilai islam, engkau yang Ia tempatkan dilingkungan ma'had sejak kecil, engkau yang Ia jaga kepolosanmu hingga kini, engkau yang Ia berikan keistiqomahan hingga aku belum pernah melihat seseorang yang lebih istiqomah dibanding dirimu, engkau yang Ia jaga dari fitnah dengan segera menikahkanmu dengan seseorang yang juga begitu sholeh secara dzahir...

Saudariku, pantaskah aku iri? Ah, tidak... aku tidak iri... Dan memang tak boleh iri bukan? Akan terus kutepis rasa itu, mendahulukan dan memberi apapun yang kupunya untukmu merupakan salah satu tanda cintaku padaNya, terus mencintai dan mendahulukan hamba yang tampak begitu dijagaNya walau hati ini sakit, sedih... Aku ah... aku mencintaimu karena Allah...

Terkadang aku sedih, sangat sedih... Bagaimana denganku? Dengan susah payah aku mencoba menapaki jalan ini tapi engkau ... lihat betapa polos dan indahnya engkau... begitu Allah menjagamu...
Dan aku??? Lihatlah betapa susah dan pedihnya untuk berada dijalanNya. Seolah menapakinya seorang diri. Betapa mudahnya aku terjatuh dan terpelosok...

Aku tidak terlahir dari keluarga sepertimu, tidak tumbuh dengan sifat pemalu, polos, penyabar dan taat sepertimu. Aku kebalikan dari semua karaktermu. Dan kau tau, sifat lama bisa kembali kapan saja, tidak sepertimu yang Ia anugerahkan sifat terpuji dan tumbuh dengannya. Sementara aku? Ah, sudahlah...

Ya Allah.... terkadang aku..
Bagaimana mungkin Allah mencintaiku sementara aku selalu saja bermaksiat? Bagaimana mungkin aku mengatakan semua ini adalah nikmat padahal sama sekali tak membuat hatiku selalu terpaut denganNya? Bagaimana mungkin aku melupakan adanya nikmat yang melalaikan? Bukankah boleh jadi semua itu adalah bagianku di dunia hingga aku tak mendapatkan bagianku lagi di akhirat?

Ah, maukah Allah menjagaku sebagaimana Ia menjagamu? Sebagaimana Ia menjaga dan memuliakan Aisyah Radhiyallahu 'anh?
Read More..

Selasa, 27 September 2016

Curhat Pagi

6 tahun jauh dari ortu baru kali ini ngerasain ga enaknya pisah, jauh dari orang-orang tersayang. Berkali kali pkl belum pernah ngerasain sesepi ini yang kata syahidah "kok disini hampa ya kak?" Yah walaupun pasiennya akeh tapi...
 
Hm, rasanya pengen cepat pindah ke RS... 

2 bulan itu ga lama kan??? 

#semangat *2bln itu g lama

😔

Read More..

About Me

Foto Saya
Akhwat's Note
Just an ordinary girl...
Lihat profil lengkapku