topbella

Senin, 18 September 2017

Ketika Elang Malas Terbang

*Diceritakan ulang oleh Darmapoetra Maulana*


Suatu hari seorang Raja bijaksana yang tinggal di Negri gemah ripah mendapat hadiah dua ekor anak Elang perkasa.

Dalam benak beliau berpikir : bagus sekali jika Elang ini dilatih seksama agar kelak dapat bermanuver terbang mengangkasa.

Sejurus kemudian Raja memerintahkan hulubalang memanggil pelatih burung yang tersohor untuk melatih keduanya...

Setelah beberapa bulan, pelatih burung ini melaporkan perkembangan program bagi kedua Elang Raja.

Seekor Elang telah berhasil terbang tinggi dan melayang- layang di angkasa.

Namun sungguh aneh seekor Elang lagi tak beranjak dari dahan pohon yang berada di Tamansari.

Raja yang mendengar laporan itu segera memanggil semua ahli hewan terbaik yang ada di Kerajaan guna memeriksa kondisi Elang kesayangannya....

Meski semua ahli hewan telah mencurahkan segala kemampuannya, sungguh sayang... tak ada satupun yang mampu membuat Elang ini terbang.

Berbagai usaha telah dilakukan, tetapi Elang tak bergeming dari dahannya.

Sampai suatu hari Raja saat berjalan-jalan memeriksa keadaan negerinya.

Raja bertemu seorang petani yang dikenal piawai lmu perburungan....

Mendengar catatan keahliannya Raja segera meminta bantuan kepadanya.

Tak menunggu lama esoknya saat Raja menengok Elangnya.

Raja kaget luar biasa....sang Elang telah melanglang buana.... terbang menyusuri buana.

Dengan penuh penasaran Raja bertanya kepada petani, apa yang telah dilakukan.

Petani sederhana itu dengan takzim memberi penjelasan kepada Paduka Raja....

"Saya hanya memotong cabang pohon yang selama ini dihinggapinya".

Dahan itu yang membuatnya selama ini nyaman, membuatnya takut dan malas beranjak terbang.

Apakah hari ini teman2 bagai Elang yang tak berani terbang karena berada di dahan nyaman?

Padahal kita dilahirkan sebagai Pemenang, ditakdirkan mampu mengangkasa.

Tapi kita terlalu cemas mencengkeram rasa takut berlebih yang dibuat sendiri..

Tak berani membebaskan rasa takut sehingga tak beranjak dari posisi uenak..

Takut capek, Takut ditolak,Takut gagal, Takut mencoba, Takut rugi, Takut kendala, Takut repot, Takut follow up, Takut salah dan ketakutan lainnya...

Mari memahami diri sendiri dan mulai menumbuhkan kekuatan dan percaya diri...

Yuk Terbang tinggi menggapai semua mimpi

Karena Takdir kita adalah seorang Pemenang

Berani bermimpi
Berani melangkah
Berani berjuang, ngototlah
Sampai akhirnya kita mampu membumbung tinggi ke seantero dunia.

Impikan - Doakan - Lakukan!
Read More..

Jumat, 15 September 2017

Ketika Jomblo Keluar Seorang Diri Part 2

Ingat kemarin pas aku keluar sendiri ke rumah teman?
Oke, yang belum baca bisa baca dimari.

Karena pergi seorang diri, pulangnya fix aku diomelin karena berani bawa motor sendiri padahal belum mahir?!. Siapa yang marahin? Yang jelas bukan mamah, kakak, maupun saudara sedarah malainkan seorang teman rasa saudara. Teman yang super duper protektif. Sebenarnya bukan cuman dia doang, karena hampir semua orang yang dekat denganku akan berubah menjadi protektif dan akibat keprotektifan merekalah alhasil hingga mau wisudapun aku belum mahir bawa motor dan baru belajar sekarang. Entah mengapa mereka bersikap seperti itu. Apakah diri ini terlihat begitu lemah hingga harus selalu dilindungi?? Hehehe. Oke, ini lebay. Tapi gapapa. Setidaknya bisa nyetir mobil. He

Inilah mereka yang sukses mengurungkan niatku untuk kembali mencoba mengendarai motor sejak tiga tahun lalu.
Susi : "gak usah bawa motor mba. Gak usah belajar. Mba gak cocok bawa motor".
Me : heh? "Gapapa sus. Ajarin ana ya, gak enakan ana repotin kalian mulu".
Susi : " gapapa mba, selama ana free ana bakalan ngantarin mb 'Aisy terus, gak repot kok mba"

Rani : "Kakak gak usah bawa motor aja. Ana gak mau ngajarin. Mending ana panas panasan daripada kakak bawa motor keluar sendiri". Dan dia sukses melarang siapapun yang mau ngajarin aku bawa motor.

Kak Eka : "Mumpung kakak masih di jogja, kakak bakalan antar adek kemanapun. Biar kakak jadi tukang ojeknya adek".

Fix, gak ada yang mau ngajarin ana dikota perantauan ini. Dan akhirnya dengan berbagai paksaan dan wajah memelas dan rayuan teman ana Rani akhirnya terketuk juga pintu hatinya ^_^. "Kalau ana gak diizinin dan diajarin gimana nanti kalau ana lanjut study lagi? Siapa yang ngantarin ana kesana kemari sementara kita sudah pisah?" *emot melas dan puppy eyes andalan. Emang rencana setelah ini pengen lanjut kuliah lagi insya Allah karena hijab dan status "akhowat" bagi ana bukanlah halangan untuk menggapai pendidikan setinggi mungkin selagi bukan maksiat dan mendatangkan manfa'at yang lebih banyak. Terutama buat keluarga kelak dan ummat.

Pernah dengar kata-kata ini:
Salah satu bentuk rizki dari Allah ialah Allah memberikan kita sahabat-sahabat yang baik

Yup. Sahabat yang baik itu bukan hanya membantumu saat kesusahan, tapi sahabat yang baik ialah sahabat yang selalu menguatkan dalam kebaikan dan marah saat engkau berbuat maksiat. Dan aku begitu bersyukur mendapatkannya.

Bukan hanya perhatian, tenaga bahkan materipun rela diberikan secara cuma-cuma. Dan yang lebih menyentuh hati ini adalah mereka yang tak suka melihatku "sedikit" melenceng. Misalnya saat mereka nonton dan aku tak sengaja melintas atau menengok ke arah layar maka salah seorang dari mereka akan berkata, "Mb 'Aisy gak boleh lihat! Nanti hafalannya hilang!!" *sambil nutup layar laptop.
Atau saat akan pergi ke alun-alun kidul sekedar melepas penat di malam hari yang ketika itu juga sedang ada festival musik. Apa yang dikatakan temanku kepada teman yang lainnya saat tau aku juga ingin ikut? Marah, tentu. Dengan nada kesal ia berkata, "Kenapa bilang Aisyah? Jangan ajak-ajak dia ih! Udah tau disana banyak maksiat!".

Sekalipun mereka bukan orang pondokan dan sering lalai, tak sekalipun mereka mengizinkanku untuk melakukan sesuatu diluar kebiasaanku. Dan itu sukses membuatku menangis parah. Ya, Allah lagi-lagi menjagaku melalui mereka. As u know iman itu naik turun apalagi untuk anak kuliahan seperti diriku yang lama tak ikut kajian karena sibuk kuliah dari pagi sampai menjelang maghrib dan malamnya harus menyimak setoran hafalan anak-anak, mengerjakan tugas kuliah dan sebagian waktu untuk kepentingan organisasi. Aku pernah berada dipuncak kefuturan dan ingin menyerah dalam hijrah. Membayangkan kehidupan dan diriku sebelum hijrah sepertinya begitu menyenangkan, kau tak perlu berjuang dengan begitu banyak linangan air mata saat menahan untuk tidak bermaksiat ataupun untuk tidak melakukan sesuatu yang tidak Allah cintai.

Kesal dengan sikap keprotektifan mereka?
Ya Allah... Mana mungkin aku kesal. Justru saat itu malah pengen nangis. "Disaat lalai dan letihku diatas al haq, Allah justru selalu melindukngiku untuk tetap berada dijalanNya".

Allah menghadirkan untukku saudari-saudari dengan segudang perhatin. Saat sakit, maka saudariku akan menyuapiku tanpa aku minta, membuatkan teh hangat dan merawatku dengan tulus. Saat aku begitu disibukan dengan tugas-tugasku hingga tak lagi memiliki waktu untuk diri sendiri, maka saudariku akan mencuci pakaian kotorku dan merapikan barang barangku tanpa aku minta. Saat aku dalam suatu tugas, maka saudariku akan menyiapkan segalanya untukku. Terkadang kaget saat melihat barang-barang yang aku butuhkan telah lengkap tersedia. Saat aku qaddarullah kehilangan hp, maka saudariku jauh-jauh dari Solo hari itu juga membelikan hp baru dan diantarkan ke jogja tanpa aku minta. Padahal cuman ngasih kabar doang kalau hubungin via facebook aja karena hp qaddarullah hilang dan belum sempat beli. Sering bertanya kenapa mereka mau melakukan semua untukku secara cuma-cuma padahal aku merasa tidak memperlakukan mereka sebaik itu.

Yaa aku BAPER. Bagaimana mungkin aku tidak BAPER saat mereka begitu sering memberikan hal-hal manis untukku. Sangat banyak hal-hal manis dan perhatian yang apabila aku sebutkan maka akan sangat panjang. Itulah salah satu sebab mengapa diriku masih betah dengan status single dan tak berhubungan dengan lawan jenis manapun walau hanya say hello hingga saat ini. Alhamdulillah. Selain karena tau hukumnya juga alhamdulillah karena perhatian dari orang-orang sekitar sudah terasa sangat berlimpah. Mereka dengan segudang perhatian dan selalu siap berkelana kemanapun saat jenuh melanda. Kurang apa lagi? Yah, mereka sudah cukup bagiku. Setidaknya hingga detik ini.

"Ya Rabbi... Sejauh apapun aku bermain dan selalai apapun aku hari ini, aku mohon... Jangan pernah putuskan penjagaanMu untukku dan jangan pernah Engakau mengambilku kecuali dalam keadaan aku ridho dan Engkau meridhoiku"
Read More..

Selasa, 29 Agustus 2017

Ketika Jomblo Keluar Seorang Diri

Assalaamu'alaykum...

Wah, udah lama gak ngeblog. Semenjak kenal facebook jadi malas ngeblog. Teman pada nanya, "ngapain aja gak pernah ngepost di blog lagi?". Jawabannya gak kemana-mana cuman sibuk sama urusan kampus sama organisasi doang plus udah gak punya inspirasi lagi buat nulis ^_^.
Hm, sebenarnya gak butuh inspirasi sih karna blog ini isinya curhatan hati yang minta dikeluarin doang ^_^.


Any way, tadi habis main ke kosan teman plus reunian sama teman yang sudah lama gak ketemu. Dan masya Allahnya semua sudah pada sold out. Singkat cerita si B ditelfon zauj kalau sudah dijemput dan suami si empuhnya rumah juga udah di depan pintu mau masuk. Karena tempatnya kosan dan cuman ada kamar, otomatis ana juga harus ikut pulang dengan berat hati. Yah gak mungkin juga kan ana ikut nimbrung bareng pasutri dalam kamar... ^_^. Padahal niatnya pengen main lama ^_^

Eh pas mau pulang depan pintu ada suami si B dan dia nutupin jalan. Karena malu ana memutuskan buat masuk lagi. Eh, pas mau balik ternyata suami si empuhnya rumah udah megang handle pintu buat masuk. Huft, Jadi lah ana gak punya pilihan lain selain ikut pulang. Nasib... nasib

Pas nyampe di parkiran ternyata banyak ikhwan-ikhwan pondok lagi ngobrol dan nutupin jalan. Oke fix, ana gak berani keluar karena sisi pemalu ana lagi kambuh. Selain malu karena fitroh wanita,
sebenarnya karena ini first time Ana joki seorang diri dan baru bisa kemarin sore. Hihihihi. Iya kali kalau Ana gak bisa belok dan jatuh depan ikhwan-ikhwan itu. *tutup muka pake daun kelor
Jujur, dulu sempat bisa tapi karena trauma jatuh akhirnya ogah bawa motor lagi dan malah belajar ngendarai mobil, walaupun pas dulu belajar juga sempat nabrak dan rusakin pintu mobil orang *parah


Dan akhirnyaaaa...
Jadilah ana melas depan tangga nungguin mereka selesai ngobrol seorang diri .

Yaa Allah, nasib.. nasib...Gini banget ya nasib single kalau lagi jalan sendiri apalagi didaerah pondok. Kalau itu orang awwam mungkin ana akan biasa aja dan gak pake acara malu-malu meong.

Huaaaaa... rasanya pengen bilang "bang, jemput dede bang" eoh?? ^_^
Read More..

Sabtu, 07 Januari 2017

Inikah Rasanya?

Tak mengapa perhatian itu pergi... Tak mengapa...
Tak mengapa juga rasa itu pergi... Tak mengapa...
Mungkin sudah telat untuk memperbaiki...

Kini hanya bisa sekedar merindukan...
Saat engkau selalu menyiapkan makanan dan menyuapiku saat aku sakit...
Saat aku menangis dan engkau turut menitikan air mata, mengusap lembut pundakku...
Saat aku selalu malas belajar tatkala ujian dan engkau selalu mengingatkanku,membangunkanku hingga aku benar2 bangkit...
Saat aku bangun dan handout materi ujian sdh ada disamping bantalku...
Saat engkau rela menyobek buku materimu untuk berbagi denganku...
Saat aku sibuk, lalu pakaian kotor telah tertata bersih rapi di dalam lemariku...
Saat engkau selalu membagi apa yang engkau punya kepadaku...
Saat kita berjama'ah berdua, terisak lalu bercerita mengenai akhirat berdua...
Saat engkau dengan sabar selalu menyimak hafalanku...
Saat aku marah dan engkau membalasku dengan senyum...
Saat aku selalu engkau sertakan dlm do'amu...
Saat engkau rela melakukan apapun untukku...
Saat engkau berkata aku adalah org yg paling engkau sayangi...

Ah, itu dulu...

Saudariku, Taukah... saat engkau membangunkanku untuk belajar dan aku tidak segera bangkit. Saat itu bukannya aku tak ingin bangun atau tidur kembali, bahkan rasa kantukku hilang seketika. Engkau tau apa yg aku lakukan saat it? Menangis. Ya, menangis hingga mata ini sembab. Bagaimana mungkin engkau selalu jauh lbh perduli terhadapku dibanding diriku sendiri? Bagaimana mungkin engkau seolah menjadikan dirimu sebagai pelayan untukku? Ah, dirimu... Kasih sayng Allah begitu terasa melalui dirimu...

Maafkan aku yang seringkali terkesan mengabaikan... Kini ku tau rasanya...

Satu pintaku...
Jgn lupakan aku... Saat kelak engkau di surga dan tak melihatku, tanyakan aku pd Robbmu... Tarik tanganku, dan ajak aku kesurga bersamamu...

Uhibbuki fillah yaa ukhty ashashogiiroh...
Read More..

Kamis, 01 Desember 2016

Jika Yakin Allah Segalanya, Mengapa Mengharapkan yang Lain?

Rasanya ingin memulai dari awal lagi... Kembali belajar bersabar, menumbuhkan kecintaan dan kerinduan yang besar kepadaNya...

Rasanya ingin memulai dari awal lagi... Kembali menahan, tak takut merasakan sakit dan menjadikan akhirat benar-benar sebagai tujuan...

Rasanya lelah berjuang sendiri, seolah engkau terjatuh di dasar lubang dan membutuhkan seseorang untuk membantumu berdiri, kembali barjalan...

Ah... itulah dunia...
Harus terus bersabar bukan?
Harus terus mencoba walau berkali-kali gagal...

Jika engkau yakin Allah segalanya, mengapa harus menunggu seseorang untuk kembali memulai segalanya dari awal, berharap ia akan menjadi sandaran dan tempatmu berbagi rasa?Jika cukup engkau dan Allah, mengapa mengaharapan yang lain?
Read More..

Sabtu, 15 Oktober 2016

Love Because Allah

Jika Allah mencintai seorang hamba maka Allah akan menjaganya dari maksiat bukan? Dan tidakkah engkau sadar betapa Allah mencintaimu? Betapa Allah begitu menjagamu?
Engkau yang Ia titipkan kepada pasangan yang mengerti nilai-nilai islam, engkau yang Ia tempatkan dilingkungan ma'had sejak kecil, engkau yang Ia jaga kepolosanmu hingga kini, engkau yang Ia berikan keistiqomahan hingga aku belum pernah melihat seseorang yang lebih istiqomah dibanding dirimu, engkau yang Ia jaga dari fitnah dengan segera menikahkanmu dengan seseorang yang juga begitu sholeh secara dzahir...

Saudariku, pantaskah aku iri? Ah, tidak... aku tidak iri... Dan memang tak boleh iri bukan? Akan terus kutepis rasa itu, mendahulukan dan memberi apapun yang kupunya untukmu merupakan salah satu tanda cintaku padaNya, terus mencintai dan mendahulukan hamba yang tampak begitu dijagaNya walau hati ini sakit, sedih... Aku ah... aku mencintaimu karena Allah...

Terkadang aku sedih, sangat sedih... Bagaimana denganku? Dengan susah payah aku mencoba menapaki jalan ini tapi engkau ... lihat betapa polos dan indahnya engkau... begitu Allah menjagamu...
Dan aku??? Lihatlah betapa susah dan pedihnya untuk berada dijalanNya. Seolah menapakinya seorang diri. Betapa mudahnya aku terjatuh dan terpelosok...

Aku tidak terlahir dari keluarga sepertimu, tidak tumbuh dengan sifat pemalu, polos, penyabar dan taat sepertimu. Aku kebalikan dari semua karaktermu. Dan kau tau, sifat lama bisa kembali kapan saja, tidak sepertimu yang Ia anugerahkan sifat terpuji dan tumbuh dengannya. Sementara aku? Ah, sudahlah...

Ya Allah.... terkadang aku..
Bagaimana mungkin Allah mencintaiku sementara aku selalu saja bermaksiat? Bagaimana mungkin aku mengatakan semua ini adalah nikmat padahal sama sekali tak membuat hatiku selalu terpaut denganNya? Bagaimana mungkin aku melupakan adanya nikmat yang melalaikan? Bukankah boleh jadi semua itu adalah bagianku di dunia hingga aku tak mendapatkan bagianku lagi di akhirat?

Ah, maukah Allah menjagaku sebagaimana Ia menjagamu? Sebagaimana Ia menjaga dan memuliakan Aisyah Radhiyallahu 'anh?
Read More..

Selasa, 27 September 2016

Curhat Pagi

6 tahun jauh dari ortu baru kali ini ngerasain ga enaknya pisah, jauh dari orang-orang tersayang. Berkali kali pkl belum pernah ngerasain sesepi ini yang kata syahidah "kok disini hampa ya kak?" Yah walaupun pasiennya akeh tapi...
 
Hm, rasanya pengen cepat pindah ke RS... 

2 bulan itu ga lama kan??? 

#semangat *2bln itu g lama

😔

Read More..

Jumat, 09 September 2016

Edisi Libur Part 1

Alhamdulillah waktu yang ditunggu-tunggu datang juga. Apalagi kalau bukan waktu libur. It's mean bisa tidur puas dan merefreshkan pikiran setelah dipusingkan dengan ujian dan berbagai tugas.

Mumpung libur nih, sore tadi nyempetin maen ke daerah Gunung Kidul. Kebayang kayaknya nyenengin banget bisa lihat bukit, danau, plus pemandangan dari ketinggian. Dan ternyata tak jauh dari ekspektasi. Happy banget rasanya. Maklum udah lama gak main setahun belakang gegara udah janji gak bakal sering maen lagi dan SKS yang ngajak maratonan ^_^. Yah pokoknya lumayan terbayarlah penatnya.

Karena fotografernya masih amatiran so beginilah hasilnya. Alhamdulillah ya gak jelek-jelek amat. ^_^




Dibalik jalan sore yang menyenangkan, ada sebuah ibroh berharga hari ini. Entah ini nikmat sebagai bentuk kasih sayangNya atau boleh jadi sebuah istidraj. Wallahu a'lam

A : Mb hari ini bahagia banget...
Saya : iya... (sambil tersenyum sumringah)
A : Ternyata bahagia itu sederhana ya...
Saya : kok gitu??
A : Iya. Bahagia, seneng lihat mb bisa tertawa dan bahagia hari ini ^_^

Ya Allah, seindah inikah persaudaraan ???

Jadi terharu...
Ya, karena aku tau itu bukan perkataan bualan, malainkan ucapan tulus seorang sahabat. Walau itu bukan pernyataan pertama kali dari seorang teman, tapi tetap saja membuatku malu. Malu padaNya. Aku yang seperti ini, tapi Allah selalu menunjukan kasih sayangNya melalui orang-orang sekitar. Menghadirkan untukku mereka yang tulus dan selalu menyayangiku layaknya saudara kandung. Perhatian, tenaga, hingga materi tak sungkan mereka berikan... Mereka yang belum pernah menyakiti melalui perkataan maupun sikap. 

Mungkinkah kalian bagian dari do'aku? "Ya Allah dekap aku, sayangi aku. Jika bukan Engkau yang menyayangiku maka siapa lagi selainMu? Jangan biarkan aku sendiri kecuali Engkau selalu bersamaku"

Ya, bahagia itu memang sederhana. Sesederhana Allah mempertemukanku dengan orang-orang seperti kalian ^^

Read More..

Rabu, 07 September 2016

Akhirnya Aku Berhijab

Saat awal memakai hijab dulu, sempat ada keraguan...

Belum siap. Terus mikir, lha terus siapnya kapan? Keburu mati. Ajal nggak ada yang tau!

Terus mikir, kalau ayah sama ibu pergi gimana? What i've given for them? Ayolah, aku sangat ingin berubah. Hanya ada 1 kalimat yang ingin aku dengar. "Aku bangga padamu nak!", no more.

Keraguan yang lain...
Kalau nggak ada yang suka lagi gimana??? kalau gak ada yang nembak lagi gimana? //heh, mati dong! ^^
Trus, masih pada mau caper pamer motor baru depan rumah lagi nggak ya??? Oh, ok. Ini mungkin sedikit berlebihan, hehe.

Terus, teman-teman masih pada mau dekat gak ya? Oh ayolah, aku memutuskan untuk langsung berhijab syar'i yang menutup seluruh tubuh saat aku masih mengenyam pendidikan di sekolah umum. Bukan jilbab lilitan yang hanya akan membuatku tercekik kehabisan nafas...

Tapi dibalik semua itu hanya satu keyakinan yang dapat membuang semua keraguan...

Bahwasanya disaat itulah orang-orang yang baik dan tulus akan terseleksi. Teman yang baik akan terus mensupport jika perubahan itu positive. Adapun teman yang kurang baik, maka ia tak akan tahan berdekatan dengan teman yang baik. Karena setiap jiwa akan mencari teman yang sesuai dengan jiwanya.

Memiliki satu teman namun ia dapat membawa kita dalam keta'atan dan ketenangan itu jauh lebih baik dari pada memiliki banyak teman yang populer namun justru membawa kita dalam keburukan dan kegalauan

🌠🌠🌠
Hmm, saat itu indah ya, saat harus merangkak dan tertatih-tatih buat bisa menjalankan syariat yang bertentangan dengan kebiasaan orang banyak. Harus melepas pakaian modis. Saat harus terlihat asing, saat seorang temen cowok nyeloteh "kok dia pake sarung??" Hehe... Yah wajar sih, saat itu pake rok payung+kerudung selutut padahal teman2 yang lain pake jins+baju dengan segala model...

Tapi mereka tak tahu seberapa tenang dan tentramnya perasaanku saat itu...
Seberapa indahnya saat merasa dekat denganNya. Seberapa besar kekuatan dan kepercayaan diri yang dimiliki karena merasa aman dalam penjagaanNya.

Cuman ingin menjadi lebih baik, bersiap menghadapi kematian... toh siapa sih yang gak ingin terlihat cantik, modis, berbaur cwe/cwo tanpa sekat? tapi yah itu ada batasan2 yang harus dijalankan, bahwa ada kehidupan setelah kematian.

"Jangan sampai ilmu dunia kita S2 tapi ilmu agama kita TK"
Read More..

Jumat, 12 Agustus 2016

Coretan Sahabat

Tak kusangka secepat ini. Terima kasih ya Allah pernah menjadikannya bagian dalam perjalanan hidupku. Melaluinya Engkau menjagaku. Melaluinya tak Engkau biarkan aku sendiri dan kesepian. Bersamanya Engkau ajarkan aku banyak hal mengenai kehidupan. Merasakan apa yang selama ini ingin kurasa, belajar membuang ego dan lebih banyak bersyukur. Ya Allah terima kasih...

Hai bocah jelek...
Gak nyangka ya endingnya gini. Semangat ya, sehat selalu.
Kalau ada masalah curhat sama Allah the first, baru jangan lupa curhat ke ana juga, hehe... Jaga kesehatan. Mulai sekarang harus belajar mandiri. Berjalan dengan kaki sendiri. Ingat, kita masih punya Allah. Jangan sombong dengan tidak mau sholat dan berdo'a seakan-akan kita tidak butuh Allah. Kalau sakit nangis aja gapapa, jangan ditahan. Rajin sholat, selalu berdo'a "Ya Allah, dekap aku. Jangan pernah lepaskan dekapanMu dariku. Ya Allah, jaga aku. Jika bukan Engkau yang menjaga ku, maka siapa lagi yang akan menjagaku? Ya Allah, sayangi aku. Jika bukan Engkau yang menyayangiku di dunia ini, maka siapa lagi yang akan menyayangiku? Ya Allah, sembuhkan aku. Angkatlah seluruh penyakit yang selama ini kuderita. Ya Alah, jika buka Engkau yang menyembuhkanku maka siapa lagi yang akan menyembuhlanku?"

Saudariku...
Aku mendekatimu karena Allah, dan kini aku melepaskanmupun karena Allah... Semangat! ^_^ Semoga ini menjadi awal yang baik untuk semakin dekat denganNya, karena hidup ini ialah tentang bagaimana kita bisa terus berada diatas jalan dan ridhoNya ^^ uhibbuki fillah. Semoga Allah mempertemukan kita kembali di SurgaNya... Uhibbuki fillah adek manja ^_^


Read More..

About Me

Foto Saya
Akhwat's Note
Just an ordinary girl...
Lihat profil lengkapku